Teman-teman pernah dengar Hari Tumpek Wayang? Apa itu Tumpek Wayang? Apa kaitannya dengan wayang, tokoh wayang atau kisah-kisah wayang?
Penasaran, ‘kan. Yukk, langsung saja kita baca pembahasannya.

Tumpek Wayang adalah hari suci Hindu yang dirayakan karena adanya pertemuan pancawara (kliwon) dan saptawara (saniscara) yang menjadi tumpek dan dipadukan dengan pertemuan wuku Wayang. Sehingg hari itu dikenal dengan Tumpek Wayang. Menurut Lontar Sundarigama, Tumpek Wayang adalah momentum untuk memuja Bhatara Iswara untuk memohon penyucian terhadap tetabuhan, ukir-ukiran seperti wayang ataupun pratima. Atau dapat dikatakan di hari Tumpek Wayang merupakan hari suci untuk menyucikan segala bentuk kesenian kepada Dewa Iswara.
Kisah di Tumpek Wayang
Nah, teman-teman pasti pernah mendengar nama sapuh leger, Dewa Rare Kumara, atau Bhatara Kala, bukan? Nah, semua itu berkaitan dengan hari Tumpek Wayang.

Di Bali dipercaya setiap anak yang lahir di pada hari Tumpek Wayang harus diberikan upacara khusus yang disebut peruwatan kelahiran untuk menjauhkannya dari hal-hal negatif. Hal ini sesungguhnya didasari oleh kisah Bhatara Kala yang lahir di wuku Wayang dari Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Karena terlahir dari air mani Dewa Siwa yang jatuh ke samudera, Bhatara Kala menjadi sangat kuat bahkan mampu mengalahkan para dewa. Oleh karena itu, supaya Bhatara Kala tidak menyerang para dewa, Dewa Siwa memberikan anugerah sekaligus izin kepada Bhatara Kala untuk memakan siapapun yang lahir tepat saat kelahirannya, yaitu pada wuku Wayang dan siapapun yang berjalan di tengah hari tepat pada Wuku Wayang.
Namun, setelah beberapa saat berlalu, Rare Kumara anak dari Dewa SIwa dan Dewi Parwati sekaligus adik dari Bhatara Kali lahir pada Wuku Wayang. Itu membuat Bhatara Kala terus mengejar adiknya untuk dimakannya, tetapi karena Dewa Siwa sangat menyayangi anaknya, Rare Kumara. Dewa Siwa berusaha untuk menghalang-halangi usaha Bhatara Kala untuk memakan Rare Kumara dengan cara berjalan di tengah hari dan tepat pada saat Wuku Wayang.
Tetapi sebelum memakan ayahandanya, Bhatara Kala diminta untuk menerjemahkan sloka yang diberikan oleh Dewa Siwa yang berbunyi:
Om asta pada sad lungayan,
Catur puto dwi puruso,
Eko bhago muka enggul,
Dwi crengi sapto locanam
Sloka tersebut berhasil diterjemahkan oleh Bhatara Kala. Akan tetapi, saat Dewa Siwa memberitahu sloka selanjuntnya tentang mata ketiga Dewa Siwa, Bhatara Kala tidak mampu menjawabnya. Ditambah lagi matahari sudah bergeser kian ke barat. Dengan itu Bhatara Kala tidak bisa lagi memakan Dewa Siwa dan usaha Dewa Siwa untuk menghalangi Bhatara Kala akhirnya berhasil menghalangi Bhatara Kala untuk memakan Rare Kumara.
Namun, Bhatara Kala tetap mengejar Rare Kumara. Sampai akhirnya Rare Kumara bersembunyi di sebuah gender pementasan wayang yang sesaat lagi akan pentas yang membuat Bhatara Kala tak berhasil melihatnya. Karena kelelahan terus mengejar sang adik, Bhatara Kala memakan sesajian yang diperuntukan kepada dalang. Oleh karena itu dibuatlah kesepakatan antara dalang dengan Bhatara Kala, siapapun yang lahir di Wuku Wayang dan telah diruwat oleh Wayang Sapuh Leger tidak akan boleh dimakan oleh Bhatara Kala.

Sehingga, menurut tradisi di Bali, seorang anak yang lahir pada Wuku Wayang harus melukat dengan Tirta Wayang Sapuh Leger. Selain itu, sehari sebelum Tumpek Wayang yaitu Jumat atau Sukra Wayang yang sering disebut sebagai hari Ala Paksa atau Pemagpag Kala, sehingga hari itu dianggap hari paling angker atau cemer alias kotor karena kekuatan negatif turun dan hadir dalam kehidupan manusia.
Bagaimana, menarik bukan kisah dibalik kepercayaan yang ada di hari Tumpek Wayang ini, bukan? Jangan lupa membaca artikel lainnya dari blog ini, ya. Sampai jumpa teman-teman!
Sumber:
https://balinesia.id/read/tumpek-wayang-momentum-menyadari-eksistensi-waktu-sebagai-realitas
http://wiracaritabali.blogspot.com/2014/09/makna-hari-tumpek-wayang.html?m=1

Tinggalkan komentar