Hari Raya Siwaratri

Teman-teman pasti sudah tidak asing lagi dengan kisah Lubdaka sang pemburu, bukan? Yapp, itu adalah salah satu kisah yang berkaitan dengan adanya Hari Siwaratri.

Mau tahu lebih lengkapnya? Yukk, simak ulasan berikut ini!

Sumber: https://images.app.goo.gl/CDpmW6zJt8AqEyCN6

Sejarah Hari Raya Siwaratri

Siwaratri terdiri dari 2 kata, yaitu Siwa dan Ratri. Siwa berasal dari bahasa Sansekerta   yang   mempunyai pengertian baik hati, suka memaafkan, memberi harapan dan membahagiakan. Sedangkan Ratri adalah malam yang dapat diartikan juga sebagai kegelapan. Jadi Siwaratri dapat diartikan sebagai malam pemerilina atau pelebur kegelapan dalam diri dan hati untuk menuju jalan yang lebih terang.

Ada beberapa versi yang menyatakan asal-usul adanya perayaan Siwaratri. Di beberapa sumber ada yang mengatakan bahwa perayaan Siwaratri ditujukan untuk merayakan pernikahan Dewa Siwa dengan Dewi Parvati dan ada pula yang mengatakan, perayaan Siwaratri terjadi untuk memperingati jasa Dewa Siwa yang telah bersedia meminum racun hasil pengadukan samudera dengan Gunung Mandara Giri untuk mendapatkan Tirta Amerta.

Namun, terlepas dari asal-usul perayaan Siwaratri yang memiliki banyak versi. Hampir semua umat Hindu mempercayai bahwa di saat malam Siwaratri adalah saat dimana Dewa Siwa sedang bertapa. Sehingga, siapapun yang dengan tulus ikhlas melakukan tapa brata di malam Siwaratri maka dipercayai bahwa jiwanya akan disucikan. Tetapi bukan berarti dosa yang telah ia perbuat justru terhapuskan.

Sumber: https://images.app.goo.gl/wdi1VbyaLKsrS3CB9

Kepercayaan ini juga diambil dari kisah Lubdaka sang pemburu yang pada suatu hari ia tak kunjung mendapat hewan buruan hingga malam tiba. Untuk berlindung dari hewan buas, iapun memanjat pohon Bila dan berdiam diri di dahan pohon itu semalam suntuk hingga pagi tanpa tertidur supaya tidak terjatuh.

Saat ia terjaga, dari malam hingga pagi ia terus merenungi kesalahan-kesalahan yang ia perbuat sembari memetik daun Bila dan menjatuhkannya ke bawah. Tetapi, tanpa ia sadari, daun Bila yang ia petik terus menerus jatuh tepat di atas lingga Dewa Siwa.

Kemudian, saat pagi tiba Lubdhaka bergegas untuk pulang. Setelah pulang dari berburu yang untuk pertama kalinya tidak mendapatkan hasil apapun. Lubdaka memutuskan untuk beralih profesi sebagai petani. Tetapi karena pergerakan petani tidak selincah saat ia menjadi pemburu, semua persendian Lubdaka kaku dan lama-kelamaan ia menjadi sakit-sakitan sampai akhirnya meninggal dunia.

Dikisahkan roh Lubdaka bingung mencari jalan untuk sampai ke tujuannya. Saat itulah, Lubdaka digiring oleh pasukan Cikrabala untuk dibawa ke kawah candragomuka dan menjalani hukuman atas dosanya karena telah membunuh banyak binatang. Tetapi, pasukan Cikrabala dicegat oleh Dewa Siwa yang memberikan Lubdaka pengampunan atas dosa yang diperbuatnya selama menjadi pemburu. Hal itu karena Lubdaka telah menyesali segala dosanya saat malam siwaratri dimana saat itu ia juga melakukan brata dengan tidak berbicara (Mona), tidak tidur (Jagra), dan upavasa (tidak makan dan tidak minum).

Akhirnya Lubdaka dapat terbebas dari karma buruknya sebagai seorang pemburu dan dapat melanjutkan perjalanannya menuju sorga.

Perayaan Hari Raya Siwaratri

Hari Raya Siwaratri jatuh setiap setahun sekali berdasarkan kalender Isaka yaitu pada purwaning Tilem atau panglong ping 14 sasih Kepitu (bulan ke tujuh) sebelum bulan mati (tilem), dalam kalender Masehi setiap bulan Januari. Siwaratri memang memiliki makna khusus bagi umat Hindu, karena pada saat tersebutlah Hyang Siwa beryoga, sehingga menjadi hari baik bagi umat untuk melakukan brata semadi berikut kegiatan penyucian dan perenungan diri serta melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Siwa.

Hari Raya Siwaratri tersebut adalah malam perenungan suci, malam dimana manusia bisa mengevaluasi dan instropeksi diri atas perbuatan atau dosa-dosa selama ini, sehingga pada malam itu manusia bisa memohon kepada Sang Hyang Siwa yang juga sedang melakukan payogan agar diberikan tuntunan sehingga bisa keluar dari perbuatan dosa tersebut.

Pada hari raya Siwaratri ada beberapa tingkatan sesuai kemampuan, diantaranya:

  1. Utama: melakukan Jagra (berjaga, tidak tidur), Upavasa (tidak makan dan tidak minum), Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara).
  2. Madhya: melakukan Jagra (berjaga, tidak tidur), Upawasa (tidak makan dan tidak minum).
  3. Nista: hanya melakukan Jagra (berjaga, tidak tidur).

Secara rinci kegiatan- kegiatan yang dilaksanakan pada hari suci Siwaratri adalah sebagai berikut:

  1. Sebelum melaksanakan seluruh kegiatan, maka terlebih dahulu dilaksanakan persembahyangan yang diperkirakan selesai tepat pada jam 06.00 dinihari
  2. Monabrata atau berdiam diri dan tak berbicara. Pelaksanaannya dilangsungkan di pagi hari dan dilakukan selama 12 jam tepatnya dari jam 06.00 – 18.00.
  3. Mejagra atau tidak tidur selama semalaman. Pelaksanaannya berlangsung dari pagi sampai pagi hari di keesokan harinya yang dilakukan selama 36 jam dari jam 06.00 – 18.00 di keesokan harinya.
  4. Upawasa atau tidak makan dan tidak minum. Puasa ini dilakukan selama 24 jam dari jam 06.00 – 06.00. Apabila sudah 12 jam maka diperbolehkan untuk makan dan minum dengan syarat bahwa nasi yang dimakan ialah nasi putih dengan garam dan minum air putih (air tawar tanpa gula).

Gimana teman-teman, sudah terjawab atau belum nih rasa penasarannya dengan Hari Raya Siwaratri?

Kalau sudah, bisa langsung baca artikel berikutnya yang tidak kalah menarik, ya. Sampai jumpa!

Sumber:

https://smandasingaraja.sch.id/berita/hari-raya-siwaratri-perayaan-dan-maknanya-di-tengah-pandemi-covid-19

https://info.smkratnawartha.sch.id/pustaka/index.php/2021/01/09/makna-hari-suci-siwaratri/

https://desasangeh.badungkab.go.id/artikel/29484-cerita-tentang-siwaratri-lubdaka-

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai