Teman-teman pasti tidak asing lagi jika mendengar Hari Raya Nyepi, ‘kan?
Yapp, Nyepi adalah salah satu hari suci keagamaan Hindu yang dijadikan hari libur nasional di Indonesia sejak tahun 1983. Tapi, jika teman-teman mendengar kata ‘Nyepi’, identik dengan apa, ya, biasanya?
Ada ogoh-ogoh, sepi, gelap, tidak boleh keluar rumah, tidak ada jaringan internet, dan masih banyak lagi tentunya, ya. Pembahasan ini tentunya akan menarik untuk disimak. Jadi, bacalah artikel berikut sampai habis, ya!

Sejarah Hari Raya Nyepi

Berdasarkan cerita dari Kitab Suci Weda, sejarah Hari Raya Nyepi berasal dari India. Dimana ketika itu terdapat 5 suku di India, yaitu Suku Saka, Pahavia, Yueh Chi, Yavana, dan Malaya. Kelima suku ini saling bersaing untuk mendapatkan kekuasaan dengan menguasai tanah India. Oleh karena itu, setiap ada pergantian kekuasaan dari suku yang berbeda, maka terjadi juga perbedaan sistem politik, agama, dan sosial di masyarakat yang begitu terlihat. Sehingga mempuat kehidupan beragama pun ikut terombang-ambing.
Hingga kira-kira pada tahun 78 Masehi, seorang pemimpin dari Suku Saka berhasil membawa sukunya menang melawan pertarungan dengan suku lainnya dan berkuasa atas tanah India kala itu. Beliau diberi gelar Raja Kaniskha I.
Sejak kepemimpinannya, Raja Kaniskha I membuat sistem penanggalan baru yang dimulai dari satu hari setelah bulan mati (1 hari setelah Tilem) di bulan Citramasa (bulan Maret di kalender Masehi). Kalender ini diberi nama Kalender Saka karena dibuat oleh raja dari keturunan Suku Saka. Oleh karena itu setiap sehari setelah Tilem Kesanga di Bulan Maret diperingati sebagai Tahun Baru Saka.
Tidak hanya itu, sejak menjabat menjadi raja, beliau berhasil merangkul dan mempersatukan kelima suku di India hingga hampir tidak ada konflik antar suku yang terjadi seperti sebelumnya. Sehingga membuat kehidupan sosial masyarakat, terutama kehidupan beragama masyarakat lebih terarah dan stabil. Tahun Baru Saka pun digunakan oleh masyarakat India pada saat itu untuk membangun kembali sistem kemasyarakatan yang baru menggantikan sistem yang lama.
Pada tahun 456 Masehi, seorang pendeta dari Gujarat (India) yang diberi gelar Aji Saka bersama para pengikutnya memperkenalkan Kalender Saka dan peringatan Tahun Baru Saka untuk pertama kali di Desa Waru, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Dari sanalah peringatan Tahun Baru Saka menyebar hingga ke Bali, hingga adanya Hari Raya Nyepi. Nyepi berasal dari kata sepi yang berarti sunyi. Itulah sebabnya saat Hari Raya Nyepi Pulau Bali nampak gelap jika dilihat dari luar luar langit atau satelit dan begitu sunyi tanpa suara kendaraan ataupun mesin-mesin lainnya.
Namun, pada awalnya perayaan Hari Raya Nyepi tidak serempak dilaksanakan di seluruh wilayah di Bali. Beberapa wilayah di Bali dahulu memperingati Hari Raya Nyepi dengan beberapa tradisi, seperti omed-omedan yang berasal dari Sesetan, Denpasar, dibukanya Pasar Mejalangu di Badung dan yang lainnya. Hingga pada tahun 1973, PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) sebagai salah satu organisasi yang turut mengatur kehidupan beragama Hindu di Indonesia mengeluarkan keputusan hasil rapat yang dilaksanakan di Fakultas Seni Universitas Udayana bahwa peringatan Hari Raya Nyepi dilaksanakan serentak di hari yang sama untuk seluruh umat Hindu di Indonesia dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian.
Perayaan Hari Raya Nyepi
Dalam perayaan Tahun Baru Saka, ada beberapa rentetan upacara dan tradisi yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali yang biasanya dimulai sejak dua hari sebelum Hari Raya Nyepi. Ingin tahu selengkapnya? Yuk, langsung baca lanjutan uraian berikut, ya.
- Upacara Melasti

Hari Raya Nyepi selain diperingati untuk merayakan Tahun Baru Saka juga dimaknai sebagai penyucian Bhuana Agung dan Bhuana Alit untuk umat Hindu di Bali. Oleh sebab itu, diadakanlah Upacara Melasti dua hari sebelum dilaksanakannya Hari Raya Nyepi. Upacara ini dilakukan di pantai, danau, ataupun di sumber air lainnya.
Air yang didapat dari laut, danau, ataupun sumber mata air lainnya dalam upacara melasti nantinya akan digunakan sebagai tirtha untuk menyucikan diri kita (Bhuana Alit) dan tempat-tempat suci yang berada di sekeliling desa (sebagai symbol Bhuana Agung).
- Tawur Kesanga atau Mecaru

Upacara Tawur Kesanga ini biasanya dimulai dari mecaru untuk dilingkungan desa yang setelahnya akan di lakukan juga upacara mecaru di rumah masing-masing di hari yang sama. Tujuan dari mecaru ini adalah untuk menetralisir kekuatan negatif dari Bhuta Kala sebelum memulai perayaan Hari Raya Nyepi.
Serta, biasanya di hari yang sama setelah mecaru, tepatnya disaat sandikala (menjelang malam hari) diadakan pengarakan ogoh-ogoh keliling desa atau keliling kota. Dan berakhir dengan dibakarnya ogoh-ogoh di setra. Tradisi ini juga memiliki makna yang sama untuk menetralisir kekuatan jahat dari Bhuta Kala.
Rentetan upacara tawur kesanga ini dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi.
- Hari Raya Nyepi

Pelaksanaan Hari Raya Nyepi dilaksanakan mulai dari jam 06.00 pagi hingga jam 06.00 pagi di hari esoknya. Dalam melaksanakan Hari Raya Nyepi, umat Hindu mengenal Catur Brata Penyepian yang dilaksanakan ketika Hari Raya Nyepi, yaitu :Amati Geni
1. Amati Geni
Amati Geni artinya tidak menghidupkan api atau sumber cahaya selama pelaksanaan Nyepi.
2. Amati Karya
Amati Karya artinya tidak bekerja selama pelaksanaan Nyepi.Amati Lelungan
3. Amati Lelungan
Amati Lelungan artinya tidak bepergian keluar rumah.
4. Amati Lelanguan
Amati Lelanguan artinya tidak boleh berlibur, mengadakan hiburan, rekreasi, atau bersenang-senang selama Hari Raya Nyepi.
Dengan adanya Catur Brata Penyepian ini meminta kita untuk memperingati Hari Raya Nyepi dengan melakukan pengendalian diri dan terus berdoa kepada Tuhan.
- Ngembak Geni
Ngembak Geni dilaksanakan sehari setelah Hari Raya Nyepi. Dan biasanya hari ini dimanfaatkan sebagai hari untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara oleh umat Hindu.
Bagaimana, unik sekali bukan sejarah dan prosesi pelaksaan peringatan Tahun Baru Saka atau Perayaan Hari Raya Nyepi oleh umat Hindu di Bali?
Jika teman-teman masih penasaran dengan hari suci keagamaan Hindu lainnya, teman-teman bisa membaca artikel selanjutnya tentang hari suci keagamaan Hindu di blog ini, ya. Sampai Jumpa!
Sumber:
https://www.cermati.com/artikel/sejarah-hari-raya-nyepi-dan-fakta-fakta-menariknya
Sejarah Hari Raya Nyepi

Tinggalkan komentar