Pura Besakih

Keberhasilan dan kejayaan merupakan buah dari ketekukan, kesabaran, serta kerja keras.

Ayu Dewi
Sumber: https://images.app.goo.gl/WX496sv8W4ScFXUb8

Hallo teman-teman! Kali ini kita akan megulas sebuah pura yang letaknya di lereng Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Bali. Yapp, apa lagi jika bukan Pura Besakih, pura tertua dan terbesar di Bali.

Tapi, kira-kira teman-teman tahu tidak alasan diberikannya sebutan pura tertua dan terbesar di Bali untuk Pura Besakih? Yuk , simak sejarahnya!

Sumber: https://images.app.goo.gl/4DqyuAEiim5ynnACA

Semua ini bermula ketika seorang Rsi yang berasal dari tanah India Selatan melakukan perjalanan suci hingga pada abad ke-8 Masehi beliau tiba di tanah Jawa. Rsi itu bernama Rsi Markandeya, seorang pendeta Hindu Siwa Tatwa. Beliau sempat singgah di Kerajaan Mataram Kuno yang pada saat itu dipimpin oleh Dinasti Sanjaya sebelum akhirnya memutuskan untuk bertapa di Gunung Dieng.

Namun, pertapaan yang dilakukannya menjadi tidak khusuk karena terus mendapat gangguan dari makhluk halus disekitarnya. Akhirnya pergilah Rsi Markandeya kea rah timur hingga sampai di lereng Gunung Raung di Jawa Timur untuk melanjutkan pertapaannya.

Singkat cerita, setelah lama bertapa dengan khusuk, sang Rsi mendapatkan wahyu dari Ida Sang Hyang Widhi untuk berjalan menuju arah timur dan melihat sinar suci yang begitu terang dari arah timur. Setelah diselidiki dari puncak Gunung Raung, Rsi Markandeya melihat sebuah pulau yang tidak bisa diprediksi panjangnya karena diperkirakan pulau itu menyatu dengan Pulau Nusa Tenggara di sebelah timurnya. Dalam Markandeya Purana disebut Nusa Dawa (Pulau Bali saat ini). 

Kemudian, Rsi Markandeya bersama 400 orang pengikutnya pergi ke arah timur dengan menyeberangi Segara Rupek (Selat Bali) untuk sampai di Nusa Dawa. Sesampainya di Nusa Dawa, Rsi Markandeya beserta rombongan terus berjalan kea rah timur sembari membabat hutan, hingga sampailah mereka di Gunung Toh Langkir yang sekarang dikenal dengan Gunung Agung. Tetapi, saat ingin membabat hutan di lereng Gunung Toh Langkir, banyak dari rombongan Rsi Markandeya yang meninggal dunia dan sakit. Dan di sanalah sang Rsi menyadari jika ada kekuatan misterius atau kekuatan gaib yang terlibat di kejadian ini.

Oleh sebab itu, Rsi Markandeya beserta sisa rombongannya kembali ke Gunung Raung untuk bertapa mencari petunjuk. Hingga akhirnya, Rsi Markandeya mendapatkan petunjuk untuk melakukan yajna dengan menanam Panca Datu atau lima unsur logam di lereng Gunung Toh Langkir, seperti emas, perak, tembaga, perunggu, besi, dan disertai dengan Mirah Adi (Permata Utama) agar selamat saat merambah hutan tersebut.

Sumber: https://images.app.goo.gl/kCaERbfyrmzjvDTJ7

Setelah melakukan petunjuk yang diberikan kepada Rsi Markandeya,kawasan Gunung Toh Langkir diberi nama Besuki. Sedangkan, tempat dimana ditanamnya Panca Datu tersebut dibangun pura dengan nama Pura Besakih. Dimana Besakih berarti Selamat. Dan disana pula setelah berhasil ke puncak Gunung Toh Langkir, Rsi Markandeya menyadari bahwa Nusa Dawa tidak sepanjang yang dipikirkan. Oleh karena itu diubahlah nama Nusa Dawa menjadi Bali, yang berasal dari Bahasa Palawa “Wali” yang artinya persembahan suci.

Dan seiring berjalannya waktu, Pura Besakih terus berkembang secara berkala hingga menjadi kompleks pura yang sangat luas hingga saat ini, kurang lebih 20 hektar. Didalamnya terdapat 46 pura besar dan kecil yang terbagi menjadi 20 Pura Penyusungan Jagat, 17 Pura Kawitan, dan 9 Pura Dadya. Itulah sebabnya Pura Besakih dikatakan sebagai pura terbesar di Bali. Serta, karena Pura Besakih merupakan pura yang pertama didirikan di Bali, maka Pura Besakih disebut juga sebagai Mother Temple.

Bagaimana, teman-teman? Sudah jelas ‘kan ulasan sejarah mengenai Pura Besakih?

Jangan lupa baca ulasan sejarah pura lainnya di Bali, ya, teman-teman. Sampai jumpa!

Sumber:

Sejarah Pura Besakih

https://travel.detik.com/domestic-destination/d-4881502/pura-besakih-sejarah-hingga-harga-tiket-masuknya

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai