Budaya itu bagaikan sebuah huruf yang jika tidak dipadukan dengan huruf lainnya tidaklah indah untuk didengar
Ayu Dewi

Di artikel ini kita akan mengulas tentang sejarah Pura Dalem Balingkang yang terletak di Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.
Teman-teman, masih ingat dengan kisah Raja Jayapangus dari Kerajaan Balingkan yang memiliki istri seorang wanita Tionghoa?
Jangan sampai lupa, ya! Karena sejarah Pura Dalem Balingkang ini sangat berhubungan dengan kisah Raja Jayapangus, lho. Mau tahu kisah lengkapnya? Dibaca, ya artikelnya!
Sejarah dibangunnya Pura Dalem Balingkang memiliki banyak versi. Karena dari beberapa sumber mengatakan, bahwa keberadaan Kerajaan Balingkang pada zaman dulu beserta kisah Raja Jayapangus hanya sebuah kisah legenda. Hal ini disebutkan karena belum ditemukannya bukti yang kuat berupa prasasti yang dapat mendukung keberadaan Kerajaan Balingkang pada zaman dahulu. Salah satu versi yang paling dikenal dan paling sering didengar oleh masyarakat akan diulas dalam artikel ini bersumber dari Purana Pura Dalem Balingkang.

Kisah ini bermula ketika Raja Jayapangus masih memimpin kerajaan Panarajon dengan istrinya yang bernama Dewi Mandul (versi lain menyebutkan istri Raja Jayapangus bernama Sri Prameswari Induja Kentana) dengan seorang penasehat kerajaan bernama Mpu Siwa Gandhu. Raja Jayapangus memimpin kerajaan dengan baik, sehingga semua rakyatnya sejahtera. Tetapi suatu saat, Raja Jayapangus tertarik dengan putri saudagar Cina, yang bernama Kang Cing We yang saat itu menjadi dayang Mpu Lim.
Sang Raja ingin memperistri Kang Cing We, tetapi Mpu Siwa Gandhu melarangnya mengingat Kang Cing We yang bukan beragama Hindu dan berasal dari bangsa yang berbeda. Mpu Siwa Gandhu memperingati Raja Jayapangus untuk tidak menikahi Kang Cing We supaya kerajaan tidak terkena mala petaka. Tetapi, Raja Jayapangus tetap menuruti kata hatinya dan memutuskan untuk menikahi Kang Cing We.
Sebelum menikahi Kang Cing We, Raja Jayapangus dan ayah Kang Cing We, I Subandar, membuat kesepakatan bahwa pis bolong yang akan ia berikan kepada putrinya sebelum pernikahan agar dikemudian hari dianugerahkan kepada rakyatnya sebagai sarana upacara yajna dikemudian hari. Sang Raja pun menyepakatinya, lalu menikahi Kang Cing We dengan upacara lengkap.
Kesepakatan yang dibuat Raja Jayapangus membuat Mpu Siwa Gandu marah. Beliau lalu bertapa dengan sangat tekun hingga permintaannya dikabulkan oleh para dewa. Belia meminta supaya Kerajaan Panarajon didera angin ribut dan hujan berkepanjangan selama satu bulan tujuh hari hingga kerajaan tersebut hancur.
Singkat cerita, setelah Kerajaan Panarajon hancur, Raja Jayapangus beserta kedua istri, abdi kerajaan, dan rakyatnya yang masih hidup memutuskan untuk pergi dari Panarajon menuju Desa Jong Les dengan berjalan kaki sembari merabas semak belukar di sepanjang jalan yang dilaluinya. Hingga menurut cerita rakyat setempat, sampailah Raja Jayapangus di sebuah tempat pertapaan orang suci atau Dharma Anyar. Disana beliau mendirikan kerajaan baru bernama Kerajaan Balingkang yang bangunan kerajaannya saat ini menjadi Pura Dalem Balingkang. “Dalem” diambil dari nama tempat tersebut, yaitu Kuta Dalem Jong Les. “Bali” berarti baginda raja penguasa jagat Bali Dwipa dan “Kang” yang diambil dari nama sang istri, yakni Kang Cing We.

Sang Raja Jayapangus telah lama memerintah Kerajaan Balingkang hingga kerajaan tersebut menjadi kerajaan besar yang sejahtera di Bali. Tetapi, sang raja dan permaisurinya tak kunjung memiliki seorang putra. Oleh sebab itu, pergilah Raja Jayapangus ke Gunung Batur untuk bertapa, memohon anugrah keturunan.
Akan tetapi, di sana Raja Jayapngus justru tertarik dengan kecantikan Dewi Danu dan akhirnya menikahi Dewi Danu setelah berhasil membohonginya bahwa ia belum pernah menikah. Dari pernikahannya tersebut, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Maya Denawa yang nantinya akan memimpin Kerajaan Bedahulu.
Tak berselang lama, Kang Cing We yang pergi ke Gunung Batur untuk mencari suaminya memergoki Raja Jayapangus yang tengah bermesraan dengan Dewi Danu. Kang Cing We marah kepada Dewi Danu karena mengira Dewi Danu telah menggoda suaminya. Hal itu membuat Dewi Danu murka mengetahui kebenaran tentang Raja Jayapangus. Sang dewi membakar hidup-hidup Raja Jayapangus dan Kang Cing We karena amarahnya.
Di lain tempat, di Kerajaan Balingkang, Rakyat Balingkang pergi mencari raja dan ratu mereka yang tak kunjung datang ke Gunung Batur. Tetapi sesampainya di sana, rakyat hanya melihat Dewi Danu. Kemudian Dewi Danu menjelaskan apa yang terjadi kepada rakyat Balingkang, sehingga rakyat Balingkang memohon kepada sang dewi untuk mengembalikan raja mereka. Tapi, Dewi Danu tak menyetujuinya. Sebagai gantinya, Dewi Danu memberikan anugrah agar Raja Jayapangus dan Ratu Kang Cing We yang bergelar Sri Mahadewi Sasangkaja Cihna untuk memimpin Kerajaan Balingkang dari alam niskala hingga saat ini. Dan rakyat juga harus membuat barong landing lanang-istri sebagai symbol dari Raja Jayapangus dan Kang Cing We.
Gimana, unik bukan kisah sejarah Pura Dalem Balingkang? Jangan lupa ikuti kisah sejarah pura lainnya di Bali, ya!
Sumber:
http://disparbud.banglikab.go.id/index.php/baca-berita/551/PURA-DALEM-BALINGKANG.html

Tinggalkan komentar